“Tina naskah-naskah kuna bisa dicindekeun agama Islam saenyana geus sumebar di tatar Sunda jauh saméméh Déwan Salapan aya,” ceuk Undang Darsa, M. Hum., salahsaurang ahli pilologi nu kawilang nyongcolang. Anu dimaksud Déwan Salapan ku ieu dosen Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung téh taya lian ti Wali Sanga.
Senin, 21 September 2009
Bahasa Sunda Mampu Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman
Arus globalisasi yang deras memang berpotensi menenggelamkan bahasa daerah atau bahasa lokal. Jika memang terjadi demikian, siapa yang harus bertanggung jawab atas hal ini? Apakah bahasa lokal mampu tetap hidup dan berkembang di tengah derasnya arus globalisasi? Benarkah globalisasi justru semakin memperkokoh bahasa Sunda?
Bahasa Sunda

Bahasa Sunda dituturkan oleh sekitar 27 juta orang dan merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua di Indonesia setelah Bahasa Jawa. Sesuai dengan sejarah kebudayaannya, bahasa Sunda dituturkan di provinsi Banten khususnya di kawasan selatan provinsi tersebut, sebagian besar wilayah Jawa Barat (kecuali kawasan pantura yang merupakan daerah tujuan urbanisasi dimana penutur bahasa ini semakin berkurang), dan melebar hingga batas Kali Pemali (Cipamali) di wilayah Brebes, Jawa Tengah.
Langganan:
Postingan (Atom)